MIU Login

Kesetaraan Gender Remaja

Ketika ditanya apakah laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, sebagian besar remaja dengan yakin akan menjawab “ya”. Mereka tumbuh di era digital, di mana kampanye feminisme bergema di media sosial, selebritas menyuarakan kesetaraan gender, dan buku pelajaran menegaskan bahwa diskriminasi berbasis gender adalah warisan masa lalu yang harus ditinggalkan. Namun, jika kita menggali lebih dalam, sebuah paradoks mencolok muncul: banyak remaja yang mendukung kesetaraan gender dalam teori, tetapi dalam praktik masih teguh berpegang pada aturan lama mengenai peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, meskipun remaja perempuan menyadari bahwa mereka bisa menjadi pemimpin, mereka tetap merasa tidak nyaman jika harus mengambil inisiatif dalam hubungan romantis. Mereka percaya bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki hak yang sama dalam pekerjaan, tetapi tetap menganggap tugas domestik seperti memasak dan mengasuh anak sebagai tanggung jawab perempuan. Remaja laki-laki juga menghadapi kontradiksi serupa: mereka mungkin mendukung perempuan menjadi CEO, tetapi tetap berpegang pada gagasan bahwa laki-laki yang harus membayar saat berkencan. Ini bukan sekadar kebingungan remaja, tetapi sebuah ketidakseimbangan dalam cara kita memahami dan mengajarkan gender.

Paradoks dalam Pendidikan Gender

Fenomena ini menandakan bahwa meskipun kesetaraan gender telah diajarkan di sekolah, ajaran tersebut tidak cukup menggoyahkan norma sosial yang sudah mengakar. Dalam keluarga, dalam kelompok pertemanan, dan dalam representasi media, pesan-pesan tradisional tentang peran gender terus direproduksi. Para remaja mungkin telah membaca tentang R.A. Kartini atau Marie Curie, tetapi mereka juga melihat bahwa ibu mereka tetap bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga, sementara ayah mereka memegang kendali keuangan keluarga. Mereka diajari bahwa perempuan bisa menjadi ilmuwan atau insinyur, tetapi ketika mereka memilih jurusan, tekanan sosial masih mengarahkan mereka ke bidang yang lebih “feminin.”

Pendidikan gender yang ada saat ini gagal mengatasi dualitas ini. Sebagian besar pendekatan berfokus pada memberi tahu remaja bahwa kesetaraan gender adalah prinsip yang baik, tetapi tidak cukup menantang mereka untuk mempertanyakan sistem sosial yang masih mempertahankan pembagian peran gender secara kaku. Akibatnya, mereka menginternalisasi nilai-nilai kesetaraan gender tanpa benar-benar melepaskan diri dari norma lama yang tetap mengatur interaksi sosial mereka.

Daya Tarik Gender Tradisional: Kenapa Remaja Tetap Bertahan?

Jika kesetaraan gender itu begitu logis, mengapa remaja masih bergantung pada aturan gender tradisional? Jawabannya terletak pada psikologi sosial mereka. Remaja berada dalam tahap perkembangan identitas, di mana penerimaan sosial sangat penting. Mereka ingin terlihat modern dan berpikiran terbuka, tetapi mereka juga ingin merasa aman dalam komunitas mereka.

Peran gender tradisional menawarkan struktur yang jelas dan dapat diprediksi. Misalnya, aturan bahwa laki-laki harus menjadi pemimpin dalam hubungan dan perempuan harus lebih pasif memberikan kerangka kerja yang nyaman bagi mereka yang masih belajar memahami dinamika sosial. Tidak heran jika mereka memilih untuk mengikuti skrip sosial yang sudah ada, meskipun bertentangan dengan idealisme mereka.

Selain itu, media masih memperkuat narasi ini. Meskipun kita melihat semakin banyak karakter perempuan kuat di film dan serial, narasi romansa tetap mempertahankan pembagian peran yang tradisional: pria sebagai penyelamat, perempuan sebagai yang perlu dilindungi. Lagu-lagu pop masih memuja gagasan bahwa cinta sejati harus melibatkan pengorbanan perempuan, dan iklan masih menargetkan produk rumah tangga kepada ibu, bukan ayah. Semua ini secara halus mengajarkan remaja bahwa peran gender bukan hanya tentang hak, tetapi juga tentang bagaimana hubungan sosial “seharusnya” berjalan.

Kesetaraan Tanpa Transformasi: Bahaya yang Mengancam

Ketidaksesuaian antara ideologi kesetaraan gender dan praktik sosial yang masih tradisional bisa berbahaya. Pertama, ini menciptakan kesenjangan antara harapan dan realitas. Remaja perempuan mungkin percaya bahwa mereka bisa memiliki karier cemerlang, tetapi kemudian mereka menghadapi tekanan untuk tetap mengutamakan peran domestik saat dewasa. Remaja laki-laki mungkin mendukung kesetaraan gender, tetapi tetap merasa terbebani dengan ekspektasi untuk menjadi pencari nafkah utama.

Kedua, ini bisa membuat perubahan sosial berjalan lebih lambat. Jika generasi muda percaya pada kesetaraan gender tetapi tidak mengubah perilaku mereka, maka struktur sosial yang ada akan tetap bertahan. Kita bisa melihat ini dalam data: meskipun perempuan semakin banyak memasuki dunia kerja, mereka masih lebih sering mengambil cuti untuk mengurus anak. Meskipun laki-laki mendukung perempuan bekerja, mereka tetap jarang mengambil bagian yang sama dalam pekerjaan rumah tangga.

Saatnya Menantang Status Quo

Jika kita ingin benar-benar mencapai kesetaraan gender, kita harus lebih berani menantang status quo. Pendidikan gender di sekolah tidak cukup hanya mengajarkan teori, tetapi juga harus melibatkan diskusi kritis tentang bagaimana norma sosial terbentuk dan bagaimana cara mengubahnya. Kita harus mendorong remaja untuk mengalami kesetaraan gender, bukan sekadar percaya padanya.

Misalnya, kita bisa mengajarkan anak laki-laki untuk mengambil peran dalam pekerjaan rumah tangga sejak dini, bukan sekadar mengajarkan bahwa “perempuan dan laki-laki itu setara.” Kita juga perlu menciptakan ruang bagi remaja perempuan untuk mengambil inisiatif dalam kepemimpinan, bukan hanya mengatakan bahwa mereka bisa memimpin. Yang lebih penting, kita perlu mereformasi cara media menggambarkan hubungan gender agar tidak terus-menerus memperkuat pola lama yang sudah ketinggalan zaman.

Kesetaraan gender bukan hanya tentang menyuarakan keyakinan, tetapi juga tentang membongkar kebiasaan yang sudah tertanam dalam. Jika tidak, kita hanya akan melahirkan generasi yang tahu bahwa laki-laki dan perempuan itu setara, tetapi tetap menjalani hidup berdasarkan aturan lama yang membedakan mereka.


Referensi
Kamke, K., Widman, L., & Javidi, H. (2021). The multidimensionality of adolescent girls’ gender attitudes. Gender Issues. https://doi.org/10.1007/s12147-021-09288-1

اترك تعليقاً

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *

Berita Terkait