Oleh: Wardatul Mukhibbah
Gerakan Beyond MeToo telah mengungkap pengalaman pahit jutaan perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Namun, di balik perhatian terhadap perempuan dewasa, terdapat kelompok yang lebih rentan dan sering diabaikan, yaitu anak perempuan. Kekerasan seksual terhadap anak perempuan merupakan masalah kompleks yang berakar pada struktur sosial, budaya, dan ketimpangan kekuasaan.
Perkembangan teknologi digital semakin memperburuk permasalahan ini. Platform media sosial dan internet menciptakan ruang baru bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Misalnya, grooming, cyberbullying, dan penyebaran konten seksual tanpa persetujuan menjadi bentuk kekerasan yang sering terjadi di dunia maya. Anak perempuan, yang sangat bergantung pada teknologi, lebih rentan menjadi sasaran.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan berbasis gender. Edukasi seksual sejak dini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran akan kesetaraan gender dan hak individu. Selain itu, perlu adanya upaya untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak, baik di rumah, sekolah, maupun komunitas. Peran keluarga sangat krusial. Orang tua harus menjadi teladan dan membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak. Mereka perlu mengajarkan batas-batas tubuh, cara mengenali tanda bahaya, dan pentingnya melaporkan kekerasan. Sekolah juga berperan dalam memberikan pendidikan seksual yang komprehensif serta menciptakan lingkungan belajar yang aman
Penguatan sistem hukum dan penegakan hukum yang tegas sangat diperlukan. Korban kekerasan seksual harus mendapatkan perlindungan dan keadilan. Selain itu, budaya yang membenarkan kekerasan seksual harus diubah. Media massa, tokoh masyarakat, dan pemuka agama berperan penting dalam membentuk persepsi masyarakat terkait kekerasan seksual.
Mencegah kekerasan seksual terhadap anak perempuan adalah tanggung jawab bersama. Edukasi seksual yang komprehensif sejak dini membantu anak-anak memahami tubuh, batasan, dan hak mereka. Selain itu, menciptakan lingkungan yang aman di rumah, sekolah, dan komunitas sangat penting. Dengan memberikan rasa aman dan percaya diri kepada anak-anak, risiko mereka menjadi korban kekerasan dapat dikurangi.
Teknologi digital memang membuka peluang bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Namun, teknologi juga dapat menjadi alat pencegahan. Dengan meningkatkan literasi digital anak-anak, mengajarkan mereka cara mengenali dan menghindari bahaya online, serta menciptakan platform yang lebih aman, risiko kekerasan seksual di dunia maya dapat diminimalkan.
Gerakan Beyond MeToo telah menyadarkan masyarakat akan tingginya angka kekerasan seksual. Namun, kita tidak boleh mengabaikan anak-anak perempuan yang juga menjadi korban. Kekerasan seksual terhadap anak perempuan adalah pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan harus segera dihentikan. Mari bersama-sama memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender demi menciptakan dunia yang lebih aman bagi semua anak.





