MIU Login

Gender dan Persepsi “Kabur Aja Dulu” : Wanita Lebih Enggan #Kabur Aja Dulu ?

Oleh: Azhara Romadhona dan Daffa Afriandito

Di era digitalisasi yang semakin berkembang, berbagai informasi semakin mudah untuk didapat dan diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya fenomena ungkapan bertajuk tagline #KaburAjaDulu yang semakin populer di kalangan anak muda, terutama pengguna platform media sosial seperti X (dulu Twitter), Instagram hingga Tiktok. Ungkapan ini mencerminkan spontanitas, keberanian dalam mengambil keputusan, serta keinginan untuk mengeksplorasi dunia tanpa terlalu banyak pertimbangan. Hal ini bersamaan dengan tagline #IndonesiaGelap yang menjadi faktor pendorong dari menyebarnya tagline “Kabur Aja Dulu”. Dalam banyak kasus, tagline ini digunakan untuk mempengaruhi seseorang agar lebih berani mencoba hal-hal baru yang lebih ditujukan untuk dilakukan di luar negara Indonesia, baik dalam konteks perjalanan, keberlanjutan karier, maupun kehidupan pribadi.

Namun, apakah tagline ini memiliki makna yang sama bagi semua orang? Apakah faktor gender mempengaruhi bagaimana seseorang memandang konsep “kabur aja dulu”? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat beberapa aspek, mulai dari perbedaan biologis seseorang dalam pengambilan keputusan, norma sosial yang membentuk persepsi masyarakat, hingga faktor geografis yang berpengaruh terhadap kesadaran akan konsep kebebasan dan spontanitas.

A. Peran Otak dalam Pengambilan Keputusan: Perbedaan Gender
Penelitian menunjukkan cara berpikir laki-laki dan wanita berbeda. Hal tersebut dapat diketahui melalui salah satu bagian dari otak manusia yaitu korteks prefrontal/ Pfc (otak yang berperan dalam pengambilan keputusan). Korteks prefrontal memiliki perkembangan radius yang lebih besar pada perempuan dibandingkan laki-laki. Korteks prefrontal yang lebih luas ini membuat perempuan cenderung lebih berhati-hati dan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum bertindak. Sebaliknya, laki-laki sering kali lebih impulsif dalam mengambil keputusan, yang bisa membuat mereka lebih mudah menerima tagline “Kabur Aja Dulu” tanpa banyak pertimbangan.

B. Stigma Sosial dan Perempuan yang Bepergian
Selain faktor biologis, stigma sosial juga berperan besar dalam persepsi terhadap tagline ini. Perempuan seringkali dihadapkan pada norma sosial yang lebih ketat daripada laki-laki ketika berbicara tentang bepergian sendiri atau mengambil keputusan secara spontan. Sebuah survei dari Solo Female Travelers Club (2024) menemukan bahwa 60% perempuan merasa ada risiko keamanan lebih besar saat bepergian sendiri dibandingkan laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan mungkin lebih ragu untuk menerapkan prinsip “Kabur Aja Dulu” dibanding laki-laki. Namun tidak dipungkiri dalam beberapa tahun terakhir, minat perempuan untuk melakukan bepergian sendiri / solo traveling terus meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa platform YouTube dan Instagram dipenuhi dengan konten solo traveling dari berbagai kalangan pengguna media sosial baik laki-laki maupun Perempuan.

C. Faktor Geografis dan Kesadaran Masyarakat
Persepsi terhadap tagline ini juga bisa dipengaruhi oleh faktor geografis. Masyarakat di daerah perkotaan, yang lebih terbuka terhadap konsep individualisme dan kebebasan, mereka cenderung lebih menerima ide spontanitas dalam bepergian. Sebaliknya, di daerah pedesaan yang lebih mengutamakan kebersamaan dan norma sosial yang ketat, konsep “Kabur Aja Dulu” bisa dianggap kurang bertanggung jawab atau bahkan tabu bagi kalangan masyarakat pedesaan.

Faktor gender, stigma sosial, dan latar belakang geografis sangat mempengaruhi bagaimana seseorang memandang tagline “Kabur Aja Dulu”. Laki-laki mungkin lebih mudah menerima slogan ini karena faktor biologis dan norma sosial yang lebih longgar, sementara perempuan cenderung lebih berhati-hati karena pengaruh perkembangan otak serta tekanan sosial yang lebih besar. Di sisi lain, individu dari daerah perkotaan mungkin lebih banyak mengadopsi tagline ini dibanding mereka yang berasal dari pedesaan. Jadi, meskipun “Kabur Aja Dulu” terdengar sederhana, penerapannya dalam kehidupan nyata bisa sangat berbeda tergantung kepada siapa yang mendengarnya dan dari mana mereka berasal.

Gambar: Pinterest, Canva

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait