MIU Login

Hidup Perempuan yang Melawan: Suara Perempuan dalam Aksi “Indonesia Gelap”

Oleh: Farah Nur Aulia dan Wardah Nuril Kamilah

Pada 21 Februari 2025, ribuan massa turun ke jalan dalam aksi “Indonesia Gelap”, sebuah demonstrasi besar-besaran yang menyoroti krisis demokrasi dan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Di antara lautan protes, sesosok perempuan berdiri tegak, mengangkat poster bertuliskan “Hidup Perempuan yang Melawan!”—sebuah seruan yang mencerminkan perlawanan terhadap ketidakadilan yang masih mengungkung mereka.

Perempuan dalam aksi ini bukan hanya sekadar peserta, tetapi juga pemimpin gerakan, orator, dan simbol perlawanan. Keberanian mereka bersuara di tengah represifnya situasi politik saat ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan untuk kesetaraan dan keadilan belum berakhir. Namun, sejak kapan perempuan mulai melawan? Dan bagaimana sejarah panjang perjuangan ini terus berlanjut hingga hari ini?

Jejak Panjang Perempuan yang Melawan

Perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan bukanlah hal baru. Di Indonesia, gerakan ini telah berlangsung sejak era kolonial, ketika Kartini mengawali diskursus emansipasi perempuan lewat tulisan-tulisannya yang menggugat sistem patriarki. Kemudian, pada 1928, Kongres Perempuan Indonesia pertama digelar, menandai babak baru dalam perjuangan hak-hak perempuan, terutama dalam pendidikan dan pernikahan yang lebih adil.

Dalam pusaran perjuangan ini, ketika perempuan masih dikekang adat dan tak diberi ruang untuk bersuara, Ki Hadjar Dewantara menyerukan panggilan terhadap kaum perempuan “Hai, perempuan Indonesia, masuklah ke dunia pendidikan! Di situlah kamu akan menemukan cahaya yang menerangi, bekerja demi kemuliaan rakyat dan bangsa, selaras dengan kodratmu lahir dan batin.” Kata-kata ini bukan sekadar ajakan, tetapi amanat. Pendidikan adalah senjata perempuan untuk melawan ketidakadilan, untuk membebaskan diri dari belenggu ketidaktahuan, dan untuk berdiri setara.

Namun, perjuangan ini tak berhenti di sana. Pada era reformasi, suara perempuan semakin nyaring terdengar, menuntut penghapusan kekerasan berbasis gender, kesetaraan dalam dunia kerja, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan politik. Kini, di era digital, gerakan perempuan semakin masif dengan kampanye daring, diskusi publik, hingga aksi turun ke jalan seperti yang terlihat dalam demonstrasi “Indonesia Gelap”.

Kebebasan Perempuan yang Kian Terbuka, tapi…

Saat ini, kebebasan perempuan untuk bersuara semakin terbuka, tetapi bukan berarti perjuangan telah usai. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi—mulai dari pelecehan seksual, diskriminasi di dunia kerja, hingga peraturan yang masih menghambat kebebasan berekspresi.

Aksi “Indonesia Gelap” menjadi bukti bahwa perempuan tidak akan tinggal diam. Mereka berani melawan, menuntut perubahan, dan membuktikan bahwa suara mereka memiliki kekuatan. Seperti kata Audre Lorde, seorang feminis dan aktivis hak sipil, “Your silence will not protect you”—diam bukanlah pilihan, dan keberanian untuk bersuara adalah langkah pertama menuju perubahan yang lebih besar.

Penutup: Perempuan Tidak Akan Berhenti Melawan

Gerakan perempuan yang melawan bukan sekadar tren sesaat. Ini adalah bagian dari arus panjang sejarah yang akan terus berlanjut. Perempuan hari ini berdiri di pundak para pendahulu mereka—dari Kartini hingga aktivis-aktivis masa kini—untuk memastikan bahwa hak, kebebasan, dan keadilan bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang harus diperjuangkan.

Hidup perempuan yang melawan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait