MIU Login

Ladang Subur Ketidakadilan Gender di Balik Topeng Meritokrasi

Pendidikan tinggi sering kali digadang-gadang sebagai benteng meritokrasi, di mana setiap individu, tanpa memandang jenis kelamin, memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Namun, apakah benar demikian? Atau, justru kampus-kampus kita hanya menciptakan ilusi kesetaraan, sementara struktur patriarki terus berakar kuat di dalamnya?

Di berbagai seminar, laman resmi universitas, hingga kebijakan kampus, jargon “equity, diversity, and inclusion” (EDI) kerap didengungkan. Namun, ketika melihat realitas di lapangan, muncul pertanyaan besar: Apakah ini benar-benar diterapkan, atau sekadar pemanis bibir belaka?

Banyak penelitian menunjukkan bahwa akademisi perempuan menghadapi beban kerja ganda di kampus. Mereka tidak hanya harus bersaing dalam produktivitas riset yang diukur melalui publikasi dan hibah penelitian, tetapi juga terbebani dengan tugas-tugas “perawatan” (care work) yang sering kali tidak terlihat. Mereka menjadi pembimbing mahasiswa yang selalu siap mendengar, pengurus program yang mengatur segala administrasi, hingga berperan sebagai konselor bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan pribadi. Ironisnya, pekerjaan-pekerjaan ini sering kali tidak dihitung dalam penilaian kinerja akademik.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Akar permasalahannya terletak pada budaya akademik itu sendiri, yang dikenal sebagai “careless doxa.” Budaya ini, seperti yang dijelaskan oleh Pierre Bourdieu, merupakan sistem norma dan representasi sosial yang mempengaruhi bagaimana anggota komunitas akademik berperilaku dan menilai satu sama lain. Dalam konteks ini, universitas secara tidak langsung menganugerahkan penghargaan lebih kepada mereka yang memenuhi standar “maskulin” akademik: bekerja tanpa henti, tidak menunjukkan kelemahan, dan memprioritaskan produktivitas riset di atas segalanya.

Bukti ketidakadilan gender ini tampak nyata dalam distribusi tugas administratif. Di banyak kampus, tugas-tugas ini sering kali diberikan kepada perempuan, baik secara sukarela maupun terpaksa. Hal ini terjadi karena perempuan dianggap lebih “peduli,” lebih “telaten,” dan lebih “mau berkorban.” Padahal, tugas-tugas ini sangat menguras waktu dan energi, serta menghalangi kesempatan mereka untuk fokus pada riset dan publikasi, yang pada akhirnya mempengaruhi peluang promosi dan kenaikan pangkat mereka.

Masalah lainnya adalah adanya semacam kode senyap (code of silence) di kalangan perempuan akademisi. Mereka lebih memilih diam dan menyembunyikan kondisi kesehatan atau kebutuhan pribadi mereka. Banyak dari mereka yang memilih tetap bekerja di tengah sakit, menunda cuti melahirkan, atau bahkan membawa bayi mereka ke laboratorium, hanya untuk menjaga reputasi profesionalnya.

Ini bukan sekadar masalah individu, tetapi masalah struktural. Ketika universitas terus mengukur kinerja berdasarkan produktivitas riset dan mengabaikan nilai dari tugas-tugas perawatan, mereka secara tidak langsung memarjinalkan perempuan akademisi. Universitas dengan sistem seperti ini sama saja dengan mendukung status quo patriarki di balik topeng meritokrasi.

Lalu, apa solusinya? Tidak cukup hanya dengan menambah pelatihan kesetaraan gender atau meningkatkan jumlah perempuan di posisi pimpinan. Yang diperlukan adalah perubahan paradigma dalam sistem penilaian kinerja akademik. Universitas harus mulai menghitung kontribusi non-formal, seperti pembimbingan mahasiswa dan tugas-tugas administratif, sebagai bagian dari penilaian kinerja. Selain itu, perlu adanya transparansi dalam distribusi tugas, agar tidak hanya dibebankan kepada perempuan.

Pada akhirnya, perlu adanya keberanian untuk mematahkan kode senyap ini. Selama terus diam, perempuan akademisi hanya akan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi. Perubahan tidak akan datang jika hanya menunggu belas kasihan dari mereka yang menikmati privilese dari sistem ini. Dibutuhkan upaya bersama untuk merombak sistem, menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil dan manusiawi bagi semua kalangan, tanpa kecuali.

Referensi

Gaudet, S., Marchand, I., Bujaki, M., & Bourgeault, I. L. (2021). Women and gender equity in academia through the conceptual lens of care. Journal of Gender Studies. https://doi.org/10.1080/09589236.2021.1944848

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait