MIU Login

Pemberdayaan Perempuan dalam Kewirausahaan Digital

 

Penulis: Waode Surya Darmadali, S.S., M.Hum (Dosen UIN Alauddin Makassar/Founder Lingkar Perempuan Global)

Dalam beberapa dekade terakhir, perempuan telah menjadi bagian yang semakin tak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi global. Di Indonesia, perempuan memainkan peran krusial dalam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, sekitar 64,5% pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan. Mereka tidak hanya berkontribusi pada perekonomian keluarga tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi komunitasnya. Namun, tantangan seperti akses pasar, literasi digital, dan stereotip gender masih menjadi hambatan utama bagi perempuan wirausaha.

Laporan riset yang dilakukan oleh Lingkar Perempuan Global menunjukkan bagaimana pemberdayaan perempuan dalam wirausaha berbasis digital dapat menjadi solusi strategis untuk mengatasi kendala tersebut. Melalui pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan moderasi beragama, program ini tidak hanya meningkatkan kapasitas ekonomi perempuan tetapi juga memperkuat kohesi sosial di komunitas multikultural. Artikel ini akan mengulas pentingnya integrasi kewirausahaan digital, pemberdayaan berbasis aset, dan moderasi beragama sebagai fondasi untuk membangun ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Transformasi Digital sebagai Pilar Kewirausahaan Perempuan

Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang baru bagi perempuan wirausaha untuk mengembangkan bisnis mereka dengan lebih fleksibel dan efisien. Dengan platform e-commerce, media sosial, dan alat pemasaran digital, perempuan dapat menjangkau pasar yang lebih luas tanpa batasan geografis. Riset menunjukkan bahwa adopsi teknologi digital mampu meningkatkan pendapatan UMKM hingga 30%, dengan perempuan yang terlibat dalam bisnis digital memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam persaingan pasar yang dinamis.

Namun, digitalisasi bisnis bukan tanpa tantangan. Banyak perempuan wirausaha, terutama yang berasal dari kelompok pra-sejahtera, masih menghadapi hambatan dalam mengakses teknologi dan mengembangkan keterampilan digital. Oleh karena itu, program pelatihan dan pendampingan menjadi faktor kunci dalam membantu mereka memanfaatkan teknologi digital secara optimal. Riset yang dilakukan di Lingkar Perempuan Global menunjukkan bahwa pelatihan literasi digital dan pemasaran online yang tepat dapat meningkatkan kepercayaan diri perempuan dalam mengelola bisnis berbasis digital.

Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) sebagai Strategi Pemberdayaan

Pendekatan ABCD menekankan pada pemanfaatan aset yang telah dimiliki oleh komunitas untuk mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Alih-alih berfokus pada kekurangan dan keterbatasan, pendekatan ini mengidentifikasi kekuatan yang ada dalam komunitas dan menggunakannya sebagai titik awal untuk pemberdayaan ekonomi. Dalam konteks kewirausahaan perempuan, ABCD memungkinkan perempuan untuk mengembangkan bisnis dengan memanfaatkan keterampilan, jaringan sosial, dan sumber daya lokal yang telah tersedia.

Laporan riset menunjukkan bahwa perempuan di Kelurahan Pattingalloang memiliki berbagai aset berharga, termasuk keterampilan dalam produksi makanan, kerajinan tangan, serta pengalaman dalam usaha kecil-kecilan. Melalui pendekatan ABCD, program pendampingan berhasil membantu perempuan mengidentifikasi dan mengoptimalkan potensi tersebut dalam konteks bisnis digital. Selain itu, pemetaan aset sosial yang mencakup hubungan antarindividu, organisasi lokal, dan komunitas wirausaha juga berperan dalam membangun ekosistem bisnis yang saling mendukung.

Moderasi Beragama sebagai Fondasi Inklusivitas dalam Kewirausahaan

Moderasi beragama merupakan elemen penting dalam menciptakan lingkungan bisnis yang inklusif dan harmonis, terutama dalam komunitas yang memiliki keberagaman keyakinan. Dalam konteks pemberdayaan perempuan, nilai-nilai moderasi beragama dapat membantu mengatasi potensi konflik sosial dan memperkuat kerja sama lintas kelompok. Hal ini relevan terutama dalam ekosistem bisnis yang berbasis komunitas, di mana hubungan sosial memainkan peran penting dalam keberhasilan usaha.

Program yang diterapkan di Lingkar Perempuan Global menunjukkan bahwa pendekatan moderasi beragama dapat diintegrasikan dengan strategi kewirausahaan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menanamkan nilai-nilai toleransi, kejujuran, dan etika bisnis dalam setiap pelatihan yang diberikan. Dengan cara ini, perempuan wirausaha tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam berbisnis tetapi juga memahami pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan pelanggan, mitra usaha, dan komunitas sekitarnya.

Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Program

Meskipun program pendampingan ini telah memberikan dampak positif, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan inisiatif ini. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan akses terhadap perangkat digital dan konektivitas internet di beberapa wilayah. Banyak perempuan yang ingin berpartisipasi dalam program ini masih menghadapi kendala dalam memiliki perangkat yang memadai untuk menjalankan bisnis digital.

Solusi yang dapat diterapkan adalah dengan menggandeng mitra dari sektor swasta dan pemerintah untuk menyediakan akses teknologi yang lebih luas. Program subsidi atau hibah perangkat digital bagi perempuan wirausaha dapat menjadi langkah strategis untuk mengatasi kendala ini. Selain itu, diperlukan dukungan yang lebih kuat dalam hal regulasi dan kebijakan yang mendorong inklusivitas digital bagi perempuan wirausaha.

Menuju Ekonomi Berbasis Inklusivitas dan Keberlanjutan

Pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan digital berbasis moderasi beragama bukan hanya tentang meningkatkan kesejahteraan ekonomi individu tetapi juga membangun komunitas yang lebih inklusif dan berdaya. Integrasi antara teknologi digital, pendekatan berbasis aset, dan nilai-nilai moderasi beragama dapat menciptakan model bisnis yang berkelanjutan dan memiliki dampak sosial yang lebih luas.

Laporan riset dari Lingkar Perempuan Global menjadi bukti bahwa ketika perempuan diberdayakan dengan keterampilan yang tepat dan lingkungan yang mendukung, mereka dapat menjadi agen perubahan yang signifikan dalam komunitasnya. Oleh karena itu, program pemberdayaan seperti ini perlu mendapatkan dukungan yang lebih besar dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.

Ke depan, harapannya adalah semakin banyak perempuan yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnis mereka secara digital, tanpa terhalang oleh batasan ekonomi, sosial, atau budaya. Dengan demikian, kewirausahaan perempuan tidak hanya menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi tetapi juga sebagai kekuatan utama dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif, toleran, dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait