MIU Login

Perspektif Gender: Menghadapi Tantangan Kekerasan Seksual Anak di Era Digital

Oleh: Wardatul Muhibbah

Media sosial dan aplikasi pesan instan sering digunakan pelaku untuk melakukan kekerasan di ranah digital. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana gender berperan dalam ruang digital dan dampaknya terhadap anak.

Perkembangan teknologi digital mengubah lanskap sosial secara signifikan, termasuk dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak. Era digital menciptakan ruang baru bagi pelaku untuk mengakses dan mengeksploitasi anak-anak. Perspektif gender menjadi kunci dalam memahami dan mengatasi masalah ini. Kekerasan seksual terhadap anak sering dianggap sebagai masalah individu, padahal akarnya lebih kompleks, melibatkan struktur sosial, norma gender, dan ketimpangan kekuasaan.

Masalah ini berakar dalam struktur sosial dan budaya yang tidak setara. Perempuan dan anak perempuan sering menjadi korban utama kekerasan seksual karena konstruksi sosial yang menempatkan mereka dalam posisi subordinat.Di era digital, tantangan semakin besar. Media sosial dan internet membuka peluang bagi pelaku untuk melakukan kekerasan seksual. Anak-anak, terutama perempuan, berisiko mengalami cyberbullying, grooming, dan penyebaran konten seksual tanpa izin. Situasi ini diperparah oleh normalisasi konten seksual di dunia maya dan kurangnya literasi digital.

Korban kekerasan seksual mengalami dampak psikologis jangka panjang, seperti PTSD, depresi, kecemasan, dan kesulitan bersosialisasi. Stigma sosial terhadap korban semakin memperburuk kondisi mereka. Pencegahan harus dimulai sejak dini melalui edukasi gender yang komprehensif di sekolah dan keluarga. Kesadaran tentang kesetaraan gender dan hak individu sangat penting. Lingkungan yang aman dan suportif, baik di rumah, sekolah, maupun komunitas, juga harus diciptakan.

Ironisnya, teknologi yang digunakan pelaku juga bisa menjadi alat pencegahan. Pengembangan fitur seperti filter konten dan sistem pelaporan dapat membantu melindungi anak-anak dari bahaya. Selain itu, literasi digital dapat membekali mereka dengan keterampilan untuk mengenali dan menghindari ancaman di dunia maya.

Mengatasi masalah ini memerlukan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sekolah, keluarga, dan media harus bekerja sama menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Pemerintah perlu menetapkan kebijakan perlindungan, sementara lembaga swadaya masyarakat dapat memberikan dukungan bagi korban. Sekolah harus menyediakan pendidikan seks yang komprehensif, dan keluarga harus membangun lingkungan yang penuh kasih sayang.

Kekerasan seksual terhadap anak adalah masalah serius yang memerlukan perhatian semua pihak. Dengan memahami akar masalah dan bekerja sama lintas sektor, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak. Edukasi gender, perlindungan digital, dan dukungan bagi korban adalah langkah utama dalam mengatasi persoalan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait