MIU Login

Fatherless and Tangerines: Manisnya Kehadiran yang Tak Pernah Ada

Oleh: Divisi Content and Creative Tim Ganti Status PSGA UIN Malang 2024-2025

Di balik prestasi generasi muda, ada luka yang tak terlihat tumbuh tanpa ayah. Fenomena fatherless kini bukan sekadar angka, tapi realitas di banyak keluarga. Entah karena perceraian, pernikahan dini, atau ayah yang sibuk mencari nafkah, anak kehilangan figur penting dalam tumbuh kembangnya. Ironisnya, kondisi ini semakin marak di kalangan ekonomi menengah ke bawah, di mana tekanan hidup membuat peran ayah tak lagi hadir secara utuh baik fisik maupun emosional.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kisah fiktif When Life Gives You Tangerines, di mana meski sosok ayah hadir secara fisik, ia gagal memberikan peran penuh bagi anaknya, baik secara emosional maupun pendampingan hidup. Hal ini mencerminkan kenyataan bahwa kehadiran seorang ayah tak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga dalam hal perhatian, kasih sayang, dan pengajaran.

Anak dari keluarga berada mungkin masih punya akses ke konseling, sekolah bagus, dan lingkungan suportif. Tapi bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan, fatherless adalah luka ganda. Mereka tak hanya kehilangan figur ayah, tapi juga kehilangan ruang aman untuk tumbuh. Sekolah sering kekurangan tenaga pendamping, ibu bekerja keras sendirian, dan lingkungan sekitar tak selalu mendukung. Akibatnya, banyak anak mencari pelarian di tempat yang salah, dari kenakalan remaja hingga krisis identitas.

Kita tak bisa menyulap kehadiran ayah, tapi kita bisa membangun lingkungan yang peduli. Masyarakat, sekolah, dan media punya peran strategis untuk menyuarakan dan menangani isu ini. Fatherless bukan masalah personal semata, tapi juga sosial. Di tengah kesenjangan yang makin nyata, kita perlu membuka mata: bahwa kehadiran, perhatian, dan empati bisa jadi “ayah pengganti” yang menyelamatkan generasi.

Rasulullah SAW memiliki pendekatan unik dalam mendidik anak, yang dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa prinsip dasar, yakni pendidikan berbasis kasih sayang, keteladanan (uswah hasanah), komunikasi efektif, dan pemberian tanggung jawab sesuai usia. Salah satu contoh konkret adalah bagaimana Nabi mendidik cucunya, Hasan dan Husain, dengan cara yang penuh kelembutan namun mendidik secara moral dan spiritual. Menurut Al-Attas (1980), pendidikan dalam Islam adalah proses penanaman adab (discipline of body, mind and soul), dan hal ini telah diimplementasikan oleh Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari bersama anak-anak. Pendidikan tersebut tidak hanya bersifat akademis tetapi menyeluruh terhadap aspek spiritual dan sosial.

Sebuah studi oleh Mulyadi (2019) dalam International Journal of Islamic Studies menegaskan bahwa Rasulullah membentuk metode pendidikan berbasis keteladanan dan pembiasaan, di mana anak-anak didorong untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam melalui interaksi langsung dengan Rasul dan para sahabat. Contohnya adalah bagaimana Nabi memanggil anak-anak dengan panggilan sayang dan memberikan perhatian penuh saat mereka berbicara, yang secara psikologis memperkuat rasa percaya diri dan harga diri anak.

Selain itu, dalam jurnal yang diterbitkan oleh Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS), Abdurrahman (2020) menyatakan bahwa Rasulullah SAW memberikan pendidikan berbasis nilai melalui kisah-kisah moral dan penggunaan perumpamaan, yang sangat efektif dalam membentuk pola pikir anak-anak. “The Prophet used narrative and metaphoric methods to shape children’s moral consciousness, which today is recognized as an effective pedagogical strategy” (Abdurrahman, 2020, QIJIS).

Fenomena keluarga tanpa ayah atau “fatherless” di Indonesia telah menjadi isu sosial yang semakin mendesak dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah keluarga yang mengalami ketidakhadiran figur ayah dalam rumah tangga meningkat seiring dengan perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perceraian, kematian, atau migrasi ayah untuk mencari pekerjaan di luar daerah. Penelitian oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga tanpa ayah cenderung menghadapi tantangan dalam perkembangan emosional dan sosial mereka, yang dapat berdampak pada kualitas hidup mereka di masa depan.

Selain itu, studi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga fatherless memiliki risiko lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku menyimpang, seperti kenakalan remaja dan masalah kesehatan mental. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan figur ayah dalam keluarga tidak hanya penting untuk stabilitas ekonomi, tetapi juga untuk perkembangan psikologis anak. Dengan meningkatnya angka fatherless, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan program intervensi yang dapat mendukung anak-anak dan keluarga yang terdampak, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.

Sebagai negara dengan urutan ketiga tertinggi di dunia dalam persentase anak yang tumbuh tanpa figur ayah, banyak balita yang tumbuh dengan pola asuh yang tidak layak hal ini disebutkan dari hasil Data Sensus pada tahun 2020. Pengasuhan anak yang seharusnya melibatkan peran ayah dan ibu untuk menyempurnakan proses pembentukan sikap dan perilaku anak, justru banyak masyarakat Indonesia yang berpendapat sebaliknya. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Kumara Cendekia pada tahun 2023, fatherless memberikan dampak yang cukup besar dalam proses tumbuh kembang anak. Seorang anak berusia 5 tahun akhirnya tidak memiliki kelekatan dengan sang ayah dikarenakan ayah memposisikan diri sebagai tulang punggung keluarga dan memilih untuk menyerahkan pengasuhan anak sepenuhnya pada ibu.

Tidak hanya itu, kemandirian sang anak juga belum terbentuk secara maksimal, yang seharusnya anak pada usia lima tahun sudah mandiri dalam keterampilan hidup seperti memakai kaos kaki, sepatu, makan dan minum, anak ini masih memerlukan bantuan dari ibunya. Dan akhirnya anak seringkali belum bisa mengontrol emosinya, dalam beberapa kesempatan ia sering marah dan menangis ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kehadiran seorang ayah dalam pengasuhan bukan sekadar formalitas, tetapi pondasi penting dalam pembentukan emosi, kemandirian, dan rasa aman anak. Dalam drama When Life Gives You Tangerines, sosok Choi Gwan-sik menjadi gambaran ideal tentang peran ayah yang seringkali luput dalam kehidupan nyata. Ia adalah pria pendiam, tidak banyak bicara, namun hadir secara konsisten dalam hidup Ae-sun. Meski kisahnya berfokus pada hubungan pasangan, Gwan-sik merepresentasikan figur laki-laki dewasa yang memberi rasa aman lewat kehadiran yang setia, tindakan kecil yang penuh makna, dan ketenangan dalam menghadapi hidup sifat yang sangat dibutuhkan anak dari sosok ayahnya.

Sayangnya, banyak anak di Indonesia tumbuh tanpa mengalami kehadiran seperti itu. Ayah sering kali memposisikan diri hanya sebagai pencari nafkah, menyerahkan seluruh urusan pengasuhan pada ibu. Padahal, anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar dukungan finansial mereka butuh figur yang bisa mereka lihat, dengar, dan rasakan kehadirannya setiap hari (Nurwandri, dkk. 2024). Gwan-sik mengajarkan bahwa menjadi ayah tidak harus ekspresif atau sempurna, tapi cukup dengan hadir secara tulus dan konsisten. Sama seperti manisnya tangerine dalam drama tersebut, kehadiran ayah yang sederhana tapi bermakna adalah rasa manis yang tak tergantikan dalam tumbuh kembang seorang anak.

Oleh karena itu, penting bagi ayah untuk mulai mengambil peran aktif dalam pengasuhan, khususnya dalam pendidikan anak. Kehadiran yang konsisten dapat diwujudkan melalui keterlibatan sederhana namun bermakna, seperti menemani anak belajar, mendengarkan cerita mereka, serta memberikan dukungan emosional di tengah tantangan yang mereka hadapi. Ayah juga dapat menjadi teladan melalui sikap dan perilaku sehari-hari, menanamkan nilai-nilai kehidupan tanpa perlu banyak kata. Kolaborasi dengan ibu dalam pengasuhan bukan hanya meringankan beban, tetapi juga menunjukkan pada anak bahwa kasih sayang dan tanggung jawab adalah usaha bersama. Dengan begitu, kehadiran ayah tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga menjadi sumber kekuatan batin yang membentuk karakter dan rasa aman dalam diri anak.

Di era modern seperti sekarang, pola pengasuhan anak mengalami banyak perubahan. Jika dulu tanggung jawab mendidik anak lebih sering dibebankan kepada ibu, kini semakin banyak yang menyadari bahwa peran ayah pun sama pentingnya. Harapannya, dalam pola parenting masa kini, tidak ada lagi pembagian peran yang timpang antara ayah dan ibu. Keduanya bisa menjadi tim yang solid dalam mendidik, membimbing, dan membesarkan anak, baik dari sisi emosional, sosial, maupun spiritual, bukan hanya salah satu pihak yang memikul beban itu sendirian. Kolaborasi antara ayah dan ibu bukan hanya membuat anak merasa lebih dicintai dan diperhatikan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang yang sehat.

Penelitian oleh Anawaty (2022) dalam jurnal Ar-Raihanah menunjukkan bahwa orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama dalam proses pendidikan anak. Ayah dan ibu memiliki peran saling melengkapi, termasuk dalam memberikan stimulasi yang penting bagi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Keterlibatan aktif keduanya secara bersama-sama berdampak signifikan terhadap keberhasilan pendidikan dan pembentukan karakter anak sejak dini (Anawaty, 2022). Karena itu, penting bagi orang tua masa kini untuk menghapus pola pikir lama yang membatasi peran ayah dalam pengasuhan. Kini saatnya membangun keluarga yang lebih seimbang, di mana ayah dan ibu bisa sama-sama belajar, bertumbuh, dan mendampingi anak dalam proses pendidikannya Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan anak bukan hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga oleh rumah yang hangat dan penuh dukungan dari kedua orang tuanya.

Fenomena fatherless bukan cuma angka di statistik atau sekadar drama rumah tangga, ini realita yang makin sering kita temuin, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Anak-anak tumbuh tanpa sosok ayah, bukan karena mereka nggak butuh, tapi karena kondisi sosial, ekonomi, dan budaya bikin ayah jadi “figur yang absen”. Padahal kalau kita nengok ke masa Nabi Muhammad SAW, beliau sendiri jadi contoh gimana peran ayah itu bukan cuma penting, tapi krusial beliau hadir secara emosional, jadi panutan, dan mendidik dengan kasih sayang.

Sayangnya, di Indonesia, angka fatherless makin tinggi dan banyak anak yang akhirnya tumbuh tanpa pondasi emosional yang kuat. Dampaknya nggak main-main dari keterlambatan perkembangan sampai masalah perilaku dan emosional. Tapi bukan berarti semua ayah gagal. Ada sosok seperti Gwansiknya “When Life Gives You Tangerines” yang (walaupun fiktif) bisa jadi bukti bahwa ayah masa kini tetap bisa hadir dan andil dalam pendidikan anak.

Jadi, masalahnya bukan sekadar ketidakhadiran, tapi bagaimana kita sebagai masyarakat bisa bareng-bareng bangun sistem yang lebih peduli. Fatherless itu bukan aib, tapi sinyal bahwa kita perlu lebih banyak kasih sayang, keterlibatan, dan empati dalam pengasuhan. Karena jadi ayah itu bukan soal gelar—tapi soal hadir dan mau terlibat.

Sumber Gambar: Pinterest

发表回复

您的邮箱地址不会被公开。 必填项已用 * 标注

Berita Terkait